Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Agustus 2008

sejarah tegal

Sejarah Tegal
Kekayaan sejarah sebuah kota atau kawasan terlihat dari jejak peninggalan apa yang disebut cultural heritage dan living cultural yang tersisa dan hidup di kawasan tersebut. Keduanya merupakan warisan peradaban umat manusia.

Demikian halnya dengan Kabupaten Tegal, Wilayah yang kaya akan jejak peninggalan kesejarahan sebagai penanda bahwa Kabupaten Tegal sebagai tlatah kawasan tak dapat dilepaskan dari keterkaitan garis sejarah hingga membentuk kawasan sekarang ini.
Penekanan pada bidang pertanian misalnya, tak dapat dilepaskan dari kondisi wilayah dan akar kesejarahan tlatah Kabupaten Tegal yang mengembangkan kapasitasnya selaku wilayah agraris. Tradisi keagrarisan dimulai dari ketokoan Ki Gede Sebayu juru demung trah Pajang. Bahkan kalau dirunut keagrarisan itu dimulai semenjak Mataram Kuno.

Kesaksian ini diperkuat denga ditemukannya artefak kuno dan candi di Pedagangan. Ditambah tlatah Tegal kerapkali dikaitkan dengan kerajaan Pajang dan Mataram Islam yang cenderung kekuasaan dengan basis pada agraris ( De Graaf, 1986).

Juru Demung Ki Gede Sebayu

Tegal berasal dari nama Tetegal, tanah subur yang mampu menghasilkan tanaman pertanian (Depdikbud Kabupaten Tegal, 1984). Sumber lain menyatakan, nama Tegal dipercaya berasal dari kata Teteguall. Sebutan yang diberikan seorang pedagang asal Portugis yaitu Tome Pires yang singgah di Pelabuhan Tegal pada tahun 1500 –an (Suputro, 1955).

Namun sejarah tlatah Kabupaten Tegal tak dapat diepaskan dari ketokohan Ki Gede Sebayu. Namanya dikaitkan dengan trah Majapahit, karena sang ayah Ki Gede Tepus Rumput ( kelak bernama Pangeran Onje) ialah keturunan Batara Katong Adipati Ponorogo yang masih punya kaitan dengan keturunan dinasti Majapahit (Sugeng Priyadi, 2002).

Sejarah Brebes

Ada beberapa pendapat asal muasal nama Brebes. Yang pertama mencoba menghubungkannya dengan keadaan alamiah daerah Brebes yang pada awal mulanya konon mempunyai banyak air dan sering tergenang air, bahkan ada kemungkinan masih berupa rawa-rawa. Mengingat banyak air yang merembes, munculah kemudian nama Brebes, yang selanjutnya mengalami "verbastering" (perubahan) menjadi Brebes. Pendapat kedua mencoba menalikannya dengan peri masuknya agama Islam pada awal mulanya ke Brebes, yang sekalipun dihalang-halangi namun ternyata masih juga merembes, yang dalam bahasa daerah disebut disebut "berbes". Oleh karenanya muncullah kemudian nama Berbes, yang selanjutnya berubah menjadi Brebes.

Pendapat yang ketiga mencoba menerangkan asal muasal nama Brebes dari kata-kata "bara" dan "basah".

"Bara" berarti hamparan tanah datar yang luas, sedang "basah" berarti banyak mengandung air. Kedua-duanya cocok dengan keadaan daerah Brebes, yang kecuali merupakan air. Kedua-duanya cocok dengan keadaan daerah Brebes yang kacuali merupakan dataran luas, juga mengandung banyak air, karena perkataan "bara" diucapkan "bere", sedang "basah" diucapkan "beseh", pada akhirnya lahirlah perkataan "Bere basah", yang untuk mudahnya kemudian telah berubah menjadi Brebes.

Ada pula terdapat ceritera yang berkaitan denga kata yang akhirnya menjadi kota Brebes yaitu:

Diantaranya Salem-Bantarkawung terdapat gunung bernama "Baribis" dari gunung Baribis tersebut mengalir sungai "Baribis" yang mengalir melalui dataran bagian utara bermuara di laut Jawa dan setelah bergabung dengan aliran sungai-sungai yang alin merupakan sungai besar dipantai utara Jawa. Sungai Baribis ini, pada jaman dulu dianggap sebagai sungai yang bertuah = angker (Jawa) dan konon sungai tersebut juga banyak buayanya. Orang-orang tua pada saat itu banyak yang melarang anak cucunya untuk datang, menyeberangi, mandi dan sebagainya disungai tersebut. Terlebih dalam saat berperang orang tua selalu memberikan peringatan-peringatan yang melarang melangkahi/menyeberangi sungai tersebut. Untuk meyakinkan hal ini, mka terungkaplah sebuah legenda tentang perang Arya Bangah dengan Ciyung Wanara. Akibat menyeberangi sungai Baribis tersebut, Arya Bangah mengalami kekalahan.

Dari kepercayaan akan hal tersebut maka sungai Baribis itu dijadikan peringatan = pepenget = pepeling = pepali = larangan agar jangan sampai pada saat berperang melangkahi = menyeberangi sungai tersebut.

Karena sungai Baribis menjadi larangan dari kaum tua, maka sungai Baribis dikenal sebagai larangan, atau sungai pepali atau pemali, yang berarti pepalan atau larangan.

Jadi dahulu menurut tutur beberapa orang tua di daerah Brebes selatan sungai Pemali itu semula bernama sungai Baribis yang bermata air dari gunung Baribis. Kemungkinan itu sebabnya, daerah ini disebut daerah Baribis, yaitu daerah aliran sungai Baribis dan dari kata Baribis ini menjadi Brebes.

Kalau kita perhatikan dengan seksama, nama-nama tempat si pulau Jawa ternyata merupakancermin dari keadaan alam disekitar masyarakat yang mendiami tempat-tempat itu dan cara berpikir mereka. Nama-nama itu bisa kita bedakan dalam dua golongan besar. Yang pertama, yang secara spontan telah lahir dari masyarakat di kota-kota itu sendiri, sedang yang kedua, yang dengan sengaja telah diberikan atau diperintahkan oleh suatu penguasa untuk dipakai, misalnya nama Surakarta Adiningrat, yang mula-mula telah dipergunakan oleh Sultan Pakubuwana II pada tahun 1745 untuk menyebut nama-nama tempat yang: 1. Berasal dari nama-nama tanaman, 2. Berasal dari nama-nama binatang, 3. Berasal dari nama-nama benda tambang, 4. Berasal dari nama-nama orang, 5. Mengingatkan kita pada suatu keistimewaan topografis.

Nama kota Brebes termasuk dalam katagori yang kelima. Dalam bahasa Jawa perkataan Brebes atau Mrebes berarti "tansah metu banyune" artinya "selalu keluar airnya" dan nama ini telah lahir, mengingat pada awal mula sejarahnya, keadaan lahan di kawasan kota Brebes sekarang ini memang selalu keluar airnya. Adapun kota-kota lain yang juga memiliki nama-nama semacam itu, artinya yang telah lahir berdasarkan keadaan tanahnya pada awal mula sejarahnya, bisa kita sebutkan antara lain nama-nama kota Blora di daerah Jawa Tengah dan Jember di Jawa Timur. Nama Blora telah muncul oleh keadaan tanah di kawasan kota itu pada mula sejarahnya memang masih berupa rawa-rawa, sesuai dengan arti perkataan Blora atau Balora, yang merupakan sebuah perkataan bahasa Jawa kuna yang berarti rawa, sedang nama kota Jember telah lahir, mengingat pada awal mula sejarahnya keadaan tanah di kawasan kota memang benar-benar jember atau njember, sebuah perkataan dalam bahasa Jawa berarti reged ajenes, artinya kotor dan mengandung air.

Dari sumber yang dapat diketemukan, pada tahun 1640 / 1641, nama Brebes itu sudah mulai tercantum di dalam penulisan / laporan / daftar harian yang dibuat oleh VOC. Makin kesini makin banyak uraiannya, meskipun hanya dalam hal sebagai tujuan atau persinggahan pengiriman barang-barang penting dan bahan pokok, misalnya alat-alat untuk kompeni (VOC), bahan pakaian, bahan makanan dan sebagainya.

Nama Brebes itu sendiri pernah ditulis: Barbas, Barbos atau Brebes. Dari nama dan bagaimanapun juga asal muasalnya atau apapun juga makna nama Brebes itu, kiranya bukanlah masalah bagi penduduk Brebes masa kini. Yang penting adalah mengambil hikmah dari dalamnya. Suatu kenyataan Wilayah Kabupaten brebes dianalisa dari segi lahan/tanah, curah hujan serta iklimnya, mempunyai prospek/masa depan yang cerah. Segala faktor penghambatannya Insya Allah akan dapat diatasi oleh generasi penerusnya.

NASKAH PUTUSAN SEMINAR
TANGGAL 1 NOPEMBER 1984 PERUMUSAN

Seminar penyusunan Sejarah dan Hari jadi Kabupaten Brebes pada hari Kamis tanggal 1 Nopember 1984 di Gedung DPRD Kabupaten Brebes, yang dihadiri oleh :

  • Muspida,
  • Tokoh Masyarakat,
  • Cendekiawan,
  • Undangan dari daerah dan Luar Daerah,
  • Konsultan,
  • Panitia Penyusunan Sejarah dan hari jadi Kabupaten Brebes,

Setelah mendapat :

  • Sambutan dan pengarahn Bupati Kepala Daerah dan Ketua DPRD Kabupaten Brebes,
  • Penjelasan Kertas-kerja Panitia Penyusun oleh penyaji materi (Sdr. D. Atmowinoto),
  • Tanggapan, usul-saran dan pendapat para peserta, (materi terlampir) ;

MEMUTUSKAN

  1. Menerima materi Panitia Penyusun Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Brebes, untuk ditambah sempurnakan dengan materi masukan dari para hadirin peserta (materi masukan terlampir), yang secara selektif disusun lengkap-sempurnakan oleh Panitia Penyusun Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Brebes.
  2. Menetapkan Hari Jadi Kabupaten Brebes : Hari Senin Kliwon tanggal 18 Januari 1678.
  3. Naskah penyempurnaan segera disebar-luaskan untuk mendapat tanggapan dan masukkan, yang kemudian secara final disusun kembali menjadi materi-final oleh Panitia Penyusun Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Brebes.
  4. Buku Naskah - final Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Brebes, disampaikan kepada Bupati Kepala Daerah Tingkat II Brebes untuk dimusyawarahkan DPRD Kabupaten Brebes menjadi produk politik Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes, berupa :

a. Peraturan Daerah tentang hari Jadi Kabupaten Brebes.

b. Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah yang dikuatkan oleh DPRD tentang : Sejarah Kabupaten Brebes.

Demikian rumusan kami buat, untuk dimusyawarahkan dan mendapat kata mufakat dari sidang Paripurna Seminar.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu melindungi kita semua dalam rangka mengamalkan Pancasila dan UUD 1945.

Brebes, 1 Nopember 1984.

1. Soewardi Wirjaatmadja (Ketua/anggota)
2. Nuridin Mawardi (Sekretaris/Pelapor/Anggota)
3. Drs. Soetadi (Anggota)
4. Drs. H. Ahmad Harisman, SH (Anggota)
5. Drs. Soetadji (Anggota)
6. Amen Budiman (Anggota)


Nama - nama Bupati Brebes Cetak halaman ini
Ditulis oleh Administrator
Jumat, 12 Oktober 2007
  1. Tumenggung Arya Suralaya 1678 - 1683
  2. Tumenggung Pusponegoro I
  3. Tumenggung Pusponegoro II 1683 - 1809
  4. Tumenggung Pusponegoro III
  5. K.A.A. Singasari Panatayuda I 1809 - 1836
  6. K.A.A. Singasari Panatayuda II 1836 - 1856
  7. K.A.A. Singasari Panatayuda III
  8. R.T. Cakra Atmaja 1876 - 1880
  9. RM. AA. Cakranegara I 1880 - 1885
  10. RM. T. Sumitra (Cakranegara II) 1885 -
  11. RM. Martana 1907 - 1929
  12. R. Sajikun 1929 (8 bulan)
  13. KRTM. Ariya Purnama Hadiningrat 1920 - 1929
  14. RAA. Sutirta Pringga Haditirta 1936 - 1942
  15. R. Sunarya 1942 - 1945
  16. Sarimin Reksadiharja 1946
  17. K. A. Syatori 1946 - 1947
  18. R. Awal 1947 - 1947
  19. Agus Miftah 1947 - 1948
  20. R. Sumarna 1948 - 1950
  21. Mas Slamet 1950 - 1956
  22. R. Mardjaban 1956 - 1966
  23. R.H. Sartono Gondosoewandito, SH 1967 - 1979
  24. H. Syafrul Supardi 1979 - 1989
  25. H. Hardono 1989 - 1994
  26. H. Syamsudin Sagiman 1994 - 1999
  27. H. Moh. Tadjudin Nuraly 1999 - 2001
  28. PLTH Drs Haji Tri Harjono 2001-2002

Misteri Perjalanan Dendles Di Banten

DN. Halwany

Pembangunan jalan Daendels dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur) sejauh 1000 km pada tahun 1809 – 1810 yang bertujuan untuk mempercepat tibanya surat-surat yang dikirim antar Anyer hingga Panarukan atau sebagai jalan pos, namun jalan-jalan itu dalam perkembangan selanjutnya banyak dipengaruhi kehidupan masyarakat disekitarnya dan telah berubah fungsinya antara lain mejadi jalan ekonomi atau jalan umum dan kini sudah banyak bangunan disekitarnya.

Rute jalan Daendels di Kabupaten Serang sampai saat ini sebetulnya masih dihantui oleh kesimpangsiuran informasi. Karena yang beredar di masyarakat ada dua pendapat ada yang berpendapat bahwa jalan Daendels melewati Kabupaten Lebak, namun ada juga yang menyatakan hanya melewati Kabupaten Serang saja. Memang, menelusuri jalan Daedels dari titik km nol di Anyer hingga 1000 km di Panarukan, orang sering bingung untuk menentukan rute yang benar apakah melalui Serang ataukah melalui Lebak, beberapa masyarakat yang dihubungi, hanya mengenal jalan Daendels dari Anyer sampai Serang. Tidak itu saja di Banten juga banyak jalan-jalan yang bercabang dan masyarakat setempat menamakannya jalan Daendels.

Kesimpangsiuran informasi itu menurut Halwany Michrob, wajar-wajar saja sebab pembautan jalan Deandels saat itu melaukannya dalam dua tahapan, tahap pertama merupakan pembuatan jalan untuk membuka poros Batavia – Banten pada tahun 1808, pada masa itu Daendels memfokuskan kegiatannya pada pembangunan dua pelabuhan di utara (Merak) dan di selatan (Ujung Kulon). Jalur ini melalui garis pantai dari Batavia menuju Carita, Caringin, menembus Gunung Palasari, Jiput, Menes, Pandeglang, Lebak hingga Jasinga (Bogor). Tahap kedua dimulai tahun 1809, Dari Anyer Melalui Pandeglang jalan bercabang dua menuju Serang (utara) dan Lebak (selatan). Dari Serang, rute selanjutnya Ke Tangerang, Jakarta, Bogor, Puncak, Cianjur, Bandung, Sumedang, Cirebon hingga Panarukan, sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Jalan inilah jalan yang di sebut jalan utama atau jalan protokol, tetapi itu tidak berarti bahwa tidak ada cabang-cabang jalan lainnya yang dilewati oleh Daendels.

Di daerah tertentu, banyak rute khusus yang sengaja di bangun oleh Daendels pada masa itu terutama daerah pusat Kabupaten karena untuk mempermudah transortasi pengangkutan rempah-rempah ke luar daerah tersebut. Banten merupakan tempat yang paling banyak memiliki cabang-cabang Jalan Deandels sebab Banten cukup banyak menghasilkan rempah-rempah. Anyer dijadikan titik km nol karena kota ini sudah di pola Daendels untuk mempermudahkan pengangkutan hasil bumi dari Banten menuju dua pelabuhan yaitu pelabuhan Merak dan Pelabuhan Ujung Kulon. Banten sendiri sudah dilokalisasi dalam segi hasil bumi oleh Daendels karena Banten Subur dan Kaya akan hasil buminya terutama rempah-rempah.

Hingga saat ini, sebagian besar jalan Daendels masih terpakai bahkan yang lama sengaja diperbaharui supaya dapat digunakan. Jalan Daendels yang tidak dapat digunakan lagi adalah daerah Pontang dan Bayah, karena hancur dan tidak diperbaiki kembali. Sementara itu Daendels sempat memerintahkan pembuatan jalan di selatan Pulau Jawa, rutenya di mulai dari sebelah barat Jawa yakni; Bayah menuju Pelabuhan Ratu, terus ke selatan ke daerah Sukabumi, Cimanuk dan seterusnya hingga ke Pangandaran, Purwokerto dan Yoyakarta. Jalan Daendels yang lebih di kenal oleh masyarkat adalah jalan bagian utara Jawa, ini disebabkan karena jalan di utara melalui rute yang berhadapan langsung dengan rute Batavia, sedangkan jalan bagian selatan Jawa selain kondisi jalannya rusak banyak juga yang terputus seperti jalan Bayah sampai Citorek.

Ada beberapa versi mengenai sejarah pembuatan jalan ini, ada yang mengatakan bahwa Daendels membuat jalan Anyer – Panarukan ini karena ingin mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris, sehingga Pulau Jawa perlu dibangun jalan guna menghubungkan suatu daerah ke daerah lain agar dapat mempercepat kabar berita dan alur transportasi. Secara kronologis, pada tahun 1808 datanglah Herman Willem Daendels dari Belanda ke Banten, waktu ia datang ke Indonesia negaranya tengah di jajah oleh Perancis. Sebagai murid yang disayangi Napoleon, akhirnya Daendels dikirim ke Indonesia untuk menggantikan Gubernur Jendral dari Belanda yang ada di Indonesia oleh Napoleon Bonaparte (Dr. H.J. de Graaf; 363-370, 1949). Dengan segala upaya akhirnya Daendels mendapatkan bantuan dari rakyat Banten berupa rempah-rempah untuk dikirim ke Perancis dan Belanda sebagai upeti, jadi tidak mengherankan jika ia membuat kerja rodi dan tanam paksa (verplichte diensten) karena jika tidak, ia tidak bisa memberikan upeti pada kedua negara itu.

Pada tahun 1808-1809 Daendles mulai pembuatan jalan dengan rute Batavia-Banten tahap pertama, pada saat itu rakyat masih mau menghimpun kekuatan untuk melaksanakan perintah paksa Daendles, namun setelah terjangitnya penyakit malaria dan banyak yang tewas, maka rakyat menghentikan bantuannya. Karena banyaknya korban pada pembuatan jalan Batavia-Banten masih simpang siur, menurut beberapa sejarahwan Indonesia, yang meninggal sekitar 15.000 orang dan banyak yang meningal tampa dikuburkan secara layak. Walaupun demikian Daendels semakin keras menghadapi rakyat, ia tidak segan-segan memerintahkan tentaranya menembak mati rakyat yang lalai atau tidak mau bekerja dalam pembuatan jalan apapun alasannya.

Sementara itu ada yang beranggapan jalan Daendels dibuat untuk jalur pos atau Jalan Pos Raya (Grote Postweq), namun Halwany beranggapan bahwa jalan Daendels sebagai siasat untuk memperlancar jalur ekonomi, politik dan pemerintahan. Jadi yang dikatakan jalan pos disini maksudnya adalah sebagai sentral untuk pemerintahan agar sistim birokrasi pola pikirnya sampai kebawah.

Keadaan jalan Daendels saat ini dari titik nol km yang bertempat di Anyer Kidul, Desa Cikoneng menuju Serang maupun Pandeglang dibandingkan dengan situasi dan kondisi 180 tahun yang lalu, memang jauh berbeda baik cara hidup masyarakat setempat ataupun alam sekitarnya. Pada saat tanam paksa pembuatan jalan hanya hutan belantara dengan kehidupan binatang yang ada dan di dukung oleh keadaan pantai yang indah menawan belum terjamah manusia. Puluhan orang pribumi atas perintah paksa menerobos hutan dan jadilah jalan tembus untuk mempernudah arus angutan hasil-hasil bumi. Menurut ceritera penduduk setempat, pada pembuatan jalan Daendles (kerja rodi) ini setiap jarak 25 meter di tanami pohon asem di pinggir badan jalan, itu dilakukan agar badan jalan yang telah di buat tetap terpelihara adan terjaga.

Menginjak tahun 1950-an, sepanjang jalan pantai Selat Sunda ini masih sunyi, karena tidak seminggu sekali pun kendaraan roda empat melintas ke tempat ini kecuali kereta api yang melintas jurusan Rangkasbitung – Anyer itupun sehari sekali pulang-pergi mengangkut para penumpang, tapi sejak tahun 1970 di Anyer tak ada lagi ada kereta api yang melintas dan yang ada tinggal sebuah stasiun tua yang sunyi dan sepi. Beberapa masyarakat berpendapat waktu tahun 1972, jangankan malam hari pada siang hari saja masih sering menemukan rombongan binatang seperti; monyet, kancil, manjangan, kelinci maupun sesekali terlihat macan. Sekarang jalan itu telah ramai di lalui kendaraan bermotor, tak kelihatan lagi gerobak yang biasa lewat mengangut singkong ataupun pisang malah yang banyak terlihat tembok-tembok bangunan milik penduduk berjejer bahkan vila dan hotel pun telah menutupi hampir semua kawasan pantai Selat Sunda itu. Tidak hanya itu saja pabrik-pabrik pun telah memadati kawasan ini termasuk tambak udang, sekarang tidak ada lagi kelihatatan binatang liar yang bebas bergelantungan di pohon-pohon maupun bergerombol di pinggiran jalan. Binatang ini telah pergi entah kemana.


Sumber data;

1. Michrob, Halwany, 1994, “Festifal Banten 94” booklet atau brosur tempat wisata di daerah Banten.

2. Michrob, Halwany, 1990, diambil dari buku berbahasa Belanda yang berjudul “Geschiedenis van Indonesie” 1949

Menumbuhkan Kesadaran Sejarah Lokal

Oleh: Turah Untung

MOMENTUM hari ulang tahun (HUT) Kota Tegal 12 April ini, paling tidak dapat dijadikan momentum yang pas untuk menumbuhkan kesadaran terhadap sejarah lokal Tegal.

Sehingga, peringatan HUT Kota Tegal tidak hanya sekadar seremonial potong tumpeng atau ziarah ke makam sesepuh pendiri kota, namun juga bagaimana dapat menangkap nuansa historis di balik sosok Ki Gede Sebayu dalam membangun dan memajukan masyarakat Tegal.

Keberadaan sejarah lokal, kadang seperti tertutup tabir; keberadaannya tidak seperti sejarah nasional. Padahal, setiap daerah atau tempat sudah dapat dipastikan hampir semuanya memiliki sejarah; cuma, tiap-tiap tempat itu memiliki nuansa historik yang berbeda menurut keadaan dan fakta pendukungnya. Semisal sebuah peringatan hari jadi kota, tentu ada nuansa historis yang menyertainya.

Keberadaan sejarah lokal, memang sangat ditentukan oleh adanya sumber-sumber sejarah yang mendukungnya. Bagi daerah yang dahulu menjadi pusat pemerintahan, sudah dapat dipastikan daerah itu akan memiliki arti yang sangat penting bagi pengungkapan dan penyusunan sejarah.

Berbeda dengan daerah yang semenjak dahulu tidak menjadi pusat pemerintahan, maka keadaan klasiknya akan tertutup tabir. Sebab, sumber dan fakta yang menjadi sumber primer sejarah amat minim, sehingga untuk menguak tabir sejarah tentu mengalami kesulitan.

Seperti di Kota Tegal sendiri, nuansa historis yang berbau istana sentris pada saat sekarang sangat sulit dijumpai. Di samping karena pada masa klasik bukan sebagai pusat pemerintahan di Pulau Jawa, Tegal cuma daerah enclave Mataram yang keberadaannya berada di bawah bayang-bayang kebesaran Mataram.

Meski demikian, kita bisa melihat aroma istana sentris yang terpancang secara jelas ke dalam penamaan jalan, seperti Jalan Martoloyo, Sentanan, Mangkukusuman, Pekauman, dan ada kelurahan yang bernama Keraton, yang menurut orang-orang tua di daerah itulah dulu pusat pemerintahan Tegal berada. Namun apakah penamaan itu juga memberikan gambaran kesejarahannya? Entahlah, karena belum ada penelitian.

Sementara itu dalam persepsi, masyarakat masih memandang sejarah itu sebagai rentetan peristiwa ''masa lalu'', yang konstruksi sejarah selalu dikait-kaitkan dengan politik (kekuasaan).

Akibatnya, tekstur konvensional dari materi sejarah itu tidak bergeser dari persoalan raja sentris, keraton sentris, atau orang-orang besar yang secara makro memiliki akses kekuasaan.

Ketika membicarakan masalah sejarah, maka pikiran kita akan segera terseret kepada gambaran peninggalan material dalam bentuk candi, istana, masjid, atau bangunan lain.

Atau teringat dengan sisa-sisa kebudayaan lama berupa benda-benda kegunaan sehari-hari, seperti periuk belanga, alat pertanian, dan alat peperangan.

Di Tegal, untuk mengendus sisa-sisa sejarah kuna memang amat sulit. Di samping karena minimnya peninggalan sejarah kuna, juga tidak terdokumentasinya data pendukung sejarah, baik yang berupa bangunan, bukti-bukti tertulis, maupun foto-foto sejarah.

Kita cuma bisa mencium aroma sejarah lokal Tegal ketika menyaksikan pementasan Teater RSPD saat mengusung lakon Martoloyo-Martopura, atau ketika mendengar cerita kakek kita tentang Gendowor, ketika membaca buku Anton Lucas yang berjudul Pemberontakan Tiga Daerah yang kemudian direduksi oleh Sitok Srengenge dengan cerbung Kutil di Suara Merdeka.

Atau membaca buku Sartono Kartodirjo tentang ikon perlawanan masyarakat Petani Tegal Berandal Mas Cilik 1870, yang merupakan perlawanan petani Tegal akibat menguatnya subordinasi peran kolonialisme perkebunan.

Deterministik

Kini, dalam semangat desentralisasi, nampaknya memiliki urgensi jika di saat memperingati hari HUT Kota Tegal ini kemudian ditumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap sejarah kota.

Karena nantinya, kesadaran itu dapat menjadi manifestasi spontan dari masyarakat sebagai sebuah proses untuk mewujudkan kebutuhan dasar dalam menunjukkan identitasnya dan sebagai legitimasi jati dirinya.

Desentralisasi sejarah itu dapat saja dimulai dari langkah pemerintah daerah untuk merekonstruksi sejarah kota, mengumpulkan aset-aset sejarah -baik yang berupa benda, bangunan, mauupun dokumen-dokumen sejarah-, penulisan sejarah lokal, serta pelacakan sejarah dan tokoh-tokoh sejarah lokal.

Munculnya kesadaran terhadap sejarah lama, akan pula menumbuhkan kesadaran terhadap sejarah kontemporer. Untuk membangun suatu masyarakat, perlu ditumbuhkan kesadaran terhadap sejarah kontemporer.

Dalam sejarah kontemporer itu, sejarah dipandang sebagai sebuah pergerakan yang mengikuti sebuah jalan pasti, yang mengarah maju dan tidak bisa tidak berjalan dari satu tingkat ke tingkat lain yang lebih maju.

Orang dapat saja mengetahui pergerakan sejarah itu, baik dengan menaikkan maupun menurunkan temponya; tetapi ia tidak dapat menghentikannya atau mengubah arah sejarah.

Dengan demikian, perlu dibangun ke dalam kesadaran masyarakat Kota Tegal bahwa kesadaran sejarah itu adalah cermin diri. Karena sejarah adalah sesuatu proses yang berkesinambungan, dari suatu masyarakat yang berlangsung menurut hukum-hukum tertentu yang bersifat deterministik, dan memiliki akumulasi dari bangkit dan runtuhnya suatu masyarakat (Ali Syari'ati, 1988).

Sejarah tidak dipandang hanya sebagai sesuatu yang bersifat purba dan stagnan, tetapi sesuatu yang dinamis sifatnya.

Dengan demikian, ada yang patut direnungkan di saat-saat memperingati hari jadi Kota Tegal: Bagaimana menangkap spirit ''sejarah'' Ki Gede Sebayu sebagai seorang pembangun.

Di zaman sekarang pun, kita bisa memiliki spirit Sebayu sebagai seorang pembangun peradaban. Kita memiliki ruang yang lain untuk menciptakan sejarahnya sendiri.

Bagi masyarakat modern, keberadaan sejarah sangat penting untuk bercermin. Karena pentingnya, sehingga Solzhenitya mengatakan bahwa orang yang belajar sejarah saja masih buta pada sebelah matanya; apalagi orang yang tidak belajar sejarahnya, ia bisa diibaratkan buta pada kedua matanya.

Sejarah sebagai cermin zaman, bukanlah pantulan dari keprihatinan masa lalu. Tetapi, sejarah adalah sebuah pertanggungjawaban masa kini dan masa depan; karena hakikat sejarah itu adalah masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dirgahayu Kota Tegal. Teruslah bersolek dan bercermin!(90a)

- Penulis adalah pemerhati masalah sosial budaya di Kota Tegal.

sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0503/31/pan19.htm